MadiunaeElpiji untuk Hidupkan Pompa Air. Musim kemarau sudah hadir sejak beberapa bulan lalu. Hadirnya musim kemarau ini bukan sebuah berita baik bagi para petani. Mengapa demikian? sebab saat kemarau tiba, maka air untuk mengairi sawah akan sulit didapat. Petani mesti memutar otak agar air dapat mengalir untuk mencukupi pasokan sawah. Jika air sukar didapat, dan sawah tak dapat dialiri oleh air, maka kemungkinanan terburuknya adalah gagal panen. Karena itulah berbagai cara dilakukan oleh para pejuang pangan ini agar sawah yang mereka tanam tetap terjaga dengan baik dan terhindar dari gagal panen. Merekapun biasanya mengaliri sawah dengan cara memompanya dari sumber air terdekat lewat bantuan beberapa mesin.

Baca Juga:

Beginilah Kelanjutan Batu Akik Pacitan yang Wajib Kalian Ketahui

Kecil-Kecil Tapi Dibutuhkan Banyak Orang

Nah, tak jarang penggunaan mesin tersebut membuat pengeluaran kocek para petani makin membengkak. Karena itulah sebuah kreatifitas dibutuhkan agar dapat membuat sawah teraliri akan tetapi sekaligus menekan ongkos para petani. Di Kabupaten Magetan, kreatifitas itu sudah dimulai. Biasanya di Kabupaten yang terkenal dengan kerajinan kulitnya itu, para petani menyalurkan air dari sumur artesis menggunakan pompa yang berbahan bakar premium. Jika dihitung-hitung, penggunaan pompa berbahan bakar premium tersebut cukup menguras dompet para petani. Sebab, jika dihitung para petani biasanya mengaliri sawah selama tujuh jam. Nah, perjammnya mereka membutuhkan setidaknya 1 liter premium. Mereka biasa membeli premium itu di pengecer dengan harga sekitar Rp. 8.500. Jadi untuk tujuh jam waktu pengairan. Setidaknya para petani mesti mengeluarkan uang sebesar Rp 59.500. Sebuah pengeluaran yang tidak sedikit bukan?

Karena itulah pemikiran kreatif dan juga inovatif dibutuhkan untuk dapat mengatasi masalah tersebut. Hingga pada akhirnya timbulah sebuah ide yang dicetuskan oleh seorang siswa lulusan SMKN Kartoharjo, Magetan, Jawa Timur. Premium yang biasanya selalu jadi bahan bakar utama dan satu-satunya itu disisihkan, diganti dengan gas elpiji ukuran 3 kilo. Memangnya bisa? ternyata memang terbukti berhasil. Gas elpiji 3 kilo ini benar-benar berfungsi dengan baik untuk menggantikan premium yang harganya lebih mahal dan cukup membuat petani Magetan tekor itu.

Elpiji untuk hidupkan pompa air
(Sumber: Detik.com)

Hanya saja memang tak semua mesin pompa air bisa menggunakan bahan bakar berupa gas elpiji ini. Hanya beberapa jenis mesin pompa air saja yang memiliki ukuran 3 PK (ukuran kecil) yang dapat dialihkan dari penggunaan bahan bakar premium menjadi gas. Meski begitu ini tak menjadi masalah yang berarti, sebab nyatanya memang penggunaan gas ini berfungsi untuk menjadi bahan bakar pompa air.

Caranya cukup mudah. Kita memang tetap perlu menggunakan premium. Tapi, jumlahnya tak banyak. Hanya dua hingga tiga sendok makan saja sudah cukup. Nah, premium ini berfungsi sebagai pancingan yang mesti kita taruh di karburator agar mesin dapat menyala. Ketika mesin sudah menyala, maka yang mesti dilakukan selanjutnya adalah tutup keran yang biasa mengalirkan bensin. Pada saat keran bensin tersebut sudah ditutup, mulailah kita memasang regulator gas elpiji dengan selang ukuran kecil yang harus langsung kita tancapkan ke saluran filter karburator. Ketika bahan bakar premium yang diutup keran telah mengering, nantinya secara otomatis gas elpiji tiga kilogram akan berfungsi menggantikan peran si premium sebagai bahan bakar.

Dengan Gunakan Elpiji Jadi Lebih Hemat

keberhasilan ini tentunya membuat petani di Magetan tersebut dapat menghemat uang yang lumayan besar nominalnya. Jika biasanya dalam waktu tujuh jam waktu memompa air para petani menghabiskan setidaknya Rp.59.500. Dengan gas elpiji tiga kilo, waktu selama tujuh jam tersebut yang diperlukan hanya 1 tabung gas saja. Dengan demikian para petani hanya mengeluarkan uang sebesar Rp. 20 ribu.

Sudah dipastikan. Keberhasilan para petani di Kecamatan Kartoharjo, Magetan mengganti premium dengan gas elpiji untuk hidupkan pompa air membuat petani-petani dari daerah lainpun ingin mencoba inovasi yang sama. Tercatat Petani-petani dari desa Sukowidi, Tanjung, Pencol sampai Ngelang juga mulai menerapkan elpiji tiga kilogram sebagai pengganti premium sebagai bahan bakar pompa air. Bahkan, bukan tidak mungkin. Dalam beberapa waktu kedepan, inovasi dari sudut Magetan itu juga diterapkan oleh petani-petani lain di Indonesia. Dan para petani Kartoharjo Magetan itu bakal tercatat sebagai inisiator perubahan besar yang akan menguntungkan para petani.

(Gambar Utama: metrosulawesi.com)

Editor: Ridho Nur wahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here