Madiunae.id. Benteng Pendem Van Den Bosch. Ada yang bilang jika sebuah negara yang dijajah oleh Inggris akan dapat warisan sumber daya manusia yang berpendidikan. Sebab Inggris selalu konsen terhadap pendidikan masyarakat jajahannya. Tetapi, jika dijajah oleh Belanda, sebuah negara akan mendapat warisan sebuah bangunan kokoh dan indah. Jadi, tak salah jika kini, kita dapat menjumpai banyak sekali bangunan-bangunan kuno khas Eropa di seluruh wilayah Indonesia. Selama 350 tahun kerajaan Belanda mengambil alih nusantara. Selama itu juga orang-orang Eropa ini bercokol dan membentuk pemerintahanya sendiri. Karena itulah tidak salah jika mereka dengan kedigdayaannya membangun gedung-gedung untuk kepentingan kolonialismenya. Dari kota sampai desa bangunan-bangunan klasik itu mudah kita temui. Bahkan, tak sedikit justru dijadikan tempat wisata. Salah satunya ada di Ngawi, sebuah kabupaten di Jawa Timur.

Orang Ngawi pasti sudah khatam betul soal bangunan yang satu ini. Benteng Pendem Van Den Bocsh. Bagi mereka yang belum tahu pasti ketika mendengar kata ‘benteng’ yang terintas dibenak adalah sebuah bangunan kokoh nampak tak bercelah. Jika visualisasimu begitu, maka kamu tepat! Benteng Pendem Van Den Bocsh ini memang merupakan benteng karya Belanda yang terlihat kuat di zamannya. Kini, yang tersisa dari benteng tersebut adalah sisa-sisa masa jaya Belanda di tanah Ngawi. Dimana dibalik keangkuhan benteng tersebut terselip cerita dan sejarah panjang yang mesti diketahui oleh masyarakat secara luas.

Menurut beberapa cerita, Benteng Pendem Van Den Bocsh ini mulai dibangun pada tahun 1839 dan resmi dipergunakan pada tahun 1845 tepat seratus tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Dahulu Karisidenan Madiun termasuk daerah vital, sebuah daerah yang sangat perlu direbut oleh Belanda. Dan Ngawi adalah salah satu daerah di dalam Karisidenan Madiun tersebut. Kala perang Dipenorogero meletus tahun 1825-1830, api perlawanan masyarakat terhadap kebengisan belanda terus berkobar. Kala itu Madiun dipimpun oleh Bupati Kerto Dirjo. Sedangkan perlawanan di Ngawi diketuai oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirojo, selain itu perlawanan di Ngawi juga mendapat bantuan dari pengikut pangeran Diponegoro bernama Wirotani.

Baca Juga : Cerita Dibalik Uniknya Kesenian Dongkrek Khas Madiun

Perang berkobar, sayangnya Ngawi berhasil diambil alih oleh pemerintah kolonial Belanda. Untuk menjaga kedulatan Ngawi di tangan Belanda. Maka dibangunlah sebuah benteng yang kemudian dinamai Benteng Van Den Bosch. Mengapa dinamai Van Den Bosch? Nama tersebut diambil dari nama pemimpin markas benteng tersebut yang bernama Johanes Van den Bosch. Tak tanggung-tanggung. Saat benteng ini berdiri, Belanda mengirim sekitar 250 pasukan yang dipersenjatai berbagai senjata api untuk mengamankan benteng sekaligus Ngawi dari para pemberontak

Lalu, mengapa benteng ini disebut benteng pendem? Sebab sebetulnya benteng ini dibangun dibawah tanah. Jadi, dahulu benteng ini tak terlihat sama sekali. Pendem sendiri adalah bahasa jawa yang jika diartikan kedalam bahasa Indonesia berarti tertanam. Meski terdapat dibawah tanah, fungsi dari benteng ini dahulu benar-benar bermanfaat bagi pemerintahan belanda kala itu. Bahkan, hal tersebut dapat dilihat dan dijumpai dari berbagai ruangan yang tersedia disini. mulai dari ruang senjata, ruang pasukan sampai ruangan khusus untuk pimpinan. Benteng ini memiliki luas sekitar 15 Hektar dan memiliki luas 165 x 80 meter persegi.

Kini, setelah 72 tahun merdeka dan itu artinya sudah 172 tahun sejak benteng ini digunakan, kekuatannya masih tampak. Gaya khas Belanda masih sangat terpampang ketika kita berkunjung ketempat ini. Bahkan, tempat ini terlihat seperti berada di Eropa. Apalagi dengan adanya rumput hijau yang menjadi alas benteng pendem ini. Membuat kesan Eropa kental sekali terasa.

Melihat Ngawi Bergaya Eropa dari Benteng Van Den Bosch
Sumber : wikipedia.com

Tentu, kita tak boleh melewatkan untuk tidak berfoto disini. Sebab gaya Eropa klasik benteng pendem ini akan jadi latar belakang pemotretan yang sangat keren. Meski benteng milik Belanda, akan tetapi kita dapat menjumpai sebuah makam di dalam benteng ini. Makam tersebut adalah persemayaman K.H Muhammad Nursalim. Dia adalah pengikut setia Pangeran Diponogoro yang tertangkap oleh tentara Belanda. Banyak orang percaya jika Muhammad Nursalim ini adalah seorang penyebar agama islam di Ngawi. Menurut cerita masyarakat, Muhammad Nursalim dikubur hidup-hidup oleh Belanda lantaran dirinya tak mempan ditembak.

Terlepas dari misteri dan mitos ditempat ini. Boleh dikatakan jika benteng ini sangat direkomendasikan untuk kamu berlibur ataupun membuat foto prawedding. Apalagi lokasinya sangat mungkin terjangkau. Benteng ini berada di dekat Kantor Pemerintahan Kabupaten Ngawi. Jaraknya barangkali hanya 1 Km saja. Selain itu letak Benteng Pendem Van Den Bocsh juga bisa dibilang cukup strategis mengingat berada di sudut pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun.

Tiket masuk Benteng Pendem Van De Bocsh ini adalah 15.000 saja. Dengan uang segitu kamu bisa mengajak teman, pasangan atau keluarga mlihat Ngawi di masa lampau terlebih kamu juga dapat merasakan sensasi Eropa di sudut kota kecil bernama Ngawi.

 

(Editor : AprianingDwi)

(Sumber Gambar Utama : youtube.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here