madiunae.id. Siapa yang tidak kenal dengan Batik? Ya, busana kebangsaaan Indonesia yang sudah dikenal di kancah dunia. Batik merupakan identitas kenegaraan dan biasa digunakan masyarakat Indonesia dalam acara-acara resmi atau formal. Sebagai bentuk ciri khas dari kebudayaan Indonesia, hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki batik daerah sendiri-sendiri. Tersebar mulai dari Pulau Sumatera hingga Pulau Papua pasti memiliki jenis batik yang berbeda-beda.

Kini telah banyak ragam jenis batik misal batik sasirangan dari daerah Kalimantan, batik sade dari daerah Lombok, batik mega mendung dari daerah Jawa dan batik-batik lainnya. Tak kalah dengan batik-batik yang telah terkenal tersebut, di sebuah daerah kecil yang mungkin banyak orang tak tahu. Ya, daerah Madiun Jawa Timur, tepatnya di Desa Kincang Wetan Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun ada sebuah home industry yang bergerak di bidang pembuatan batik baik secara tulis maupun printing. Memang tempatnya tidak sebesar bengkel batik pada umumnya, tetapi home industry batik ini telah banyak menerima pesanan meskipun masih dalam skala lokal.

Home industry tersebut diberi nama “Batik Lemboto”. Dibaca sekilas dari namanya memang terkesan unik. Mungkin ada yang membacanya sebagai “lem boto atau lem batu bata“. Tetapi, bukan itu ya Guys artinya. Memang itu semacam kata yang berasal dari Bahasa Jawa. Lemboto merupakan gabungan dari dua kata yaitu peLEM (re:mangga) dan BOTO (re:batu bata), sehingga munculah nama LEMBOTO. Mangga dan Batu Bata inilah yang kini menjadi ikon pada logo dari Batik Lemboto. Nah, pemiliki dari Batik Lemboto ini adalah Bapak Suratmo yang bertempat tinggal di Jalan Diponegoro No. 38 Desa Kincang Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Selain menjadi tempat tinggal, Beliau juga memanfaatkan rumahnya sebagai bengkel dari pengerjaan batiknya.

Batik Lemboto, Batik Khas Kincang
Produk Batik Lemboto

Tak hanya menerima pesanan kain batik yang bersifat tulis dan printing, Batik Lemboto juga menerima pesanan sarung, sprei, mukena dan lain-lain. Semuanya Bapak Suratmo lakukan bersama Sang Istri mulai dari mendesain hingga menjualnya ke pemesan. Adapun proses pengerjaannya sebagai berikut:

  1. Persiapkan semua alat dan bahan yang digunakan mulai dari kain, canting, cat warna, wajan, kompor, lilin dan alat-alat lainnya.
  2. Potong kain mori sesuai dengan pesanan
  3. Kain mori yang sudah dipotong sesuai pesanan kemudian dicuci. Tujuannya adalah menghilangkan kanji yang terdapat pada kain mori. Selanjutnya, kain mori dimasukkan ke dalam minyak jarak agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi. Setelah semua dilakukan, maka dilakukan proses penjemuran hingga kain mori benar-benar kering. Biasanya langsung dipaku pada bingkai agar memudahkan proses pengeringan.
  4. Setelah kering dilakukan proses membuat pola batik dengan menggunakan pensil. Bisa langsung pada kain atau menggunakan bantuan kertas kemudian dijiplak pada kain. Apabila sudah digambar menggunakan pensil biasanya diulangi dengan menggunakan canting. Agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini biasanya disebut ganggang.
  5. Sampailah pada tahap membatik yaitu menuangkan lilin menggunakan canting dimulai dari pola yang pinggir kemudian mengisi bagian dalamnya dan diakhiri dengan pemberian titik-titik sebagai ornamen jika ada.
  6. Tahap selanjutnya adalah memberikan warna atau menutupi bagian yang tidak boleh terkena warna dasar. Biasanya pada bagian ini diberikan malam yang agak tebal seolah-olah sebagai penahan
  7. Mencelupkan kain batik setengah jadi ke cairan warna berulang-ulang hingga mendapatkan warna yang diinginkan
  8. Pengerokan malam dengan logam, dibilas dengan air bersih kemudian diangin-anginkan
  9. Jika batik yang dibuat memiliki dominan warna coklat, biasanya harus melewati tahapan pencelupan cairan berwarna coklat yang berasal dari kayu
  10. Tahap akhir dari proses pembuatan kain batik tulis maupun batik cap adalah diepaskannya seluruh lilin dengan cara memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih. Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-anginkan hingga kering

Proses pembuatan batik memang membutuhkan waktu yang cukup lama dan dibutuhkan ketekunan. Selain itu, tergantung pada kesediaan waktu dari Bapak Suratmo dan istri dan target penyelesaian dari pemesan. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kain batik tulis berharga cukup tinggi dibandingkan batik printing.

Nah itulah secuplik “Gadis” dari Madiun. Bagi kalian yang berada di Madiun dan sekitarnya dan ingin membeli atau memesan batik sesuai keinginan kalian, silakan langsung aja datang ke “Rumah Batik Lemboto” di daerah Desa Kincang. So, Guys Cintailah Produk Dalam Negeri ya.

Bagi kalian yang ingin tanya-tanya atau memesan Batik Lemboto dapat menghubungi Bapak Suratmo/ Ibu Sri di nomor: 0821-4228-4141/0821-4228-4004

Bangga Pakai Batik!

 

(Sumber Gambar Utama : Pribadi)

(Editor : AprianingDwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here