MadiunaeKesenian Dongkrek. Indonesia itu tidak bisa lepas dari khasanah kebudayaannya yang kaya. Tiap jengkal negara ini punya tradisi, kebiasaan sampai budaya yang berbeda-beda. Kita patut bangga akan hal tersebut, negara mana yang punya kebudayaan lengkap dan kaya macam indonesia ini? Di Indonesia, setiap Kabupaten ataupun Kotanya juga punya ciri khas dalam rasa kebudayaan yang selalu punya cerita dan makna filosofis dibaliknya.

Di Madiun misalnya, Ada satu kesenian khas yang punya sejarah panjang dan cerita menarik didalamnya. Kesenian yang dimaksud adalah Dongkrek. Buat kamu yang asli orang Madiun, seharusnya kamu sudah tahu apa itu kesenian Dongkrek. Sebuah kesenian yang memiliki cerita panjang dalam sejarahnya.

Dongkrek sendiri pertama kali dimainkan di Desa Mejayan, Kabupaten Madiun. Pertunjukan seni yang kental dengan tarian ini rupanya berawal dari sebuah ritual pengusir bala penyakit. Jadi, dahulu di Desa Mejayan, sebuah kampung di Kabupaten Madiun, banyak masyarakatnya yang terkena penyakit aneh. Penyakit ini sungguh mematikan. Membuat banyak penduduk Mejayan meninggal dunia. Penyakit tersebut dinamakan pageblug.

(Baca Juga: Jajanan yang Wajib Dicoba Kalau Berkunjung Ke Madiun)

Pageblug ini selalu mengintai masyarakat Mejayan. Ketika ada seorang yang terkena penyakit ini di Pagi hari, maka ia akan merasakan sakit dan dipastikan meninggal di malam hari. Dan jika pageblug ini menimpa seseorang pada malam hari. Maka ia akan merasa sakit hingga meninggal di pagi hari. Begitulah menyeramkannya Pageblug yang dapat mengintai masyarakat Mejayan sewaktu-waktu.

Hal tersebut kemudian dipikirkan serius oleh Demang Desa Mejayan. Demang adalah pejabat setingkat kepala desa saat itu. Nah, Demang Desa Mejayan saat itu dijabat oleh Raden Ngabei Lo Prawirodipuro. Atau yang lebih arab disapa Raden Prawirodipuro. Nah, Raden Prawirodipuro ini benar-benar merasa gusar akan penyakit yang menimpa warganya. Ia merasa mesti memiliki andil untuk dapat menyembuhkan warga Mejayan dan mengusir wabah Pageblug dari desa yang ia pimpin. Dalam Ke gelisahanya itu, Raden Prawirodipuro memutuskan untuk bersemedi dan bermeditasi di wilayah Gunung Kidul Caruban

Saat bersemedi itulah, dirinya mendapat wangsit akan cara menghalau wabah pageblug dari Mejayan. Satu-satunya cara untuk dapat mengusir Pageblug adalah dengan mengadakan Dongkrek. Sebuah fragmentasi dari penggambaran yang didapat Raden Prawirodipuro saat meditasi. Jadi, ketika meditasi dilakukan oleh Raden Prawirodipuro, dirinya melihat gambaran akan kerajaan roh halus yang serta merta menggerebek Desa Mejayan yang membuat pada akhirnya banyak penduduk desa terserang penyakit aneh, dan tewas hanya dalam hitungan jam. Gambaran pada saat meditasi itulah yang akhirnya di fragmentasikan dalam wujud Dongkrek yang pada kemudian hari lebih dikenal sebagai kesenian khas sekaligus kebanggan orang Madiun.

Pertunjukan Kesenian Dongkrek

Kesenian Dongkrek
Image: Kesenian Khas Madiun, Dongkrek Via emaze.com

Dalam pertunjukan Dongkrek, ada banyak orang yang mengambil peran, sebagian besar dari orang-orang tersebut berperan sebagai pemain musik yang membuat pertunjukan menjadi lebih hidup, sementara yang lainnya berperan sebagai buto, perempuan paruh baya dan seorang kakek-kakek sakti.

Mulanya, dalam pertunjukan Dongkrek, musik berbunyi seakan memberitahu pada mereka yang menonton jika pertunjukan sudah dimulai. Tak lama setelah musik ditabuh. Masuklah sekawanan buto. Mereka berwajah seram berperilaku kejam. Buto bergerak kesana kemari tak terkendali. Tak lama, dua orang perempuan paruh baya masuk dalam fragmen tersebut. Mereka berjalan seakan tak melihat sekawanan buto yang berada di sekelilingnya. Hingga akhirnya si buto menampakan diri dan membuat perempuan paruh baya itu ketakutan. Maka, masuklah seorang bersosok kakek-kakek tua dengan tongkat. Ia adalah kakek sakti yang akan mengusir buto dari para perempuan paruh baya itu. pertempuran terjadi antara si kakek dan sekawanan buto. Sengit, tapi bisa dipastikan jika si kakek saktilah yang menang dan membawa para perempuan itu pergi meninggalkan buto. Jika sudah begitu, penontonpun bertepuk tangan meriah.

(Baca Juga: Batik Lemboto Batik Khas Kincang)

Percaya tidak percaya, fragmentasi itu yang kemudian membuat penduduk Desa Mejayan terselamatkan dari penyakit mematikan. Kini, tradisi Dongkrek masih bisa kita temui di Madiun meskipun bukan hal mudah untuk menjumpainya. Sudah seharusnya menjadi tugas bersama untuk melestarikan kesenian yang kita punya. Sebagai orang Madiun, tentu kita bangga punya kesenian Dongkrek.  Sebuah seni yang punya filosofi begitu dalam yang tak akan dapat kita temukan di belahan bumi manapun.

(Sumber Gmabra Utama: stie-dharmaiswara.ac.id )

Editor: Ridho Nur Wahyu

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here