MadiunaePendakian Gunung Lawu. Entah mengapa, beberapa tahun terakhir ini, kegiatan naik gunung jadi sebuah kegiatan yang ngetren di masyarakat kita. Dengan itu, kita jadi dapat melihat banyak pendaki dadakan yang akhirnya menyukai kegiatan naik gunung itu. Memang, tak patut dipungkiri gunung-gunung di Indonesia ini benar-benar luar biasa indahnya. Langit biru, padang edelweis, berdiri diatas awan sampai dengan menikmati kecantikan kawah adalah paket komplit yang akan didapat para pendaki ketika mewujudkan niat untuk naik gunung di Indonesia.

Jadi memang tidak ada salahnya untuk mengisi waktu libur bekerja dengan naik gunung. Asalkan segala kelengkapanya telah dipersiapkan dengan baik. Mulai dari peralatan sampai dengan logistik yang cukup. Memang sih dibeberapa gunung di Indonesia ada beberapa warung yang berjualan dan sengaja menjajakan beberapa makanan. Tapi, warung-warung itu hanya dapat ditemui di kaki gunung atau pos-pos pendakian awal saja. Kecuali di Gunung Lawu.

(Baca Juga : Serunya Berwisata di Mojosemi Forest Park, Tempat Wisata Kekinian di Magetan)

 

Pendakian Gunung Lawu, Ada Warung di Puncak Gunung

warung mbok yem di pendakian gunung lawu
Sumber: nugrohoahmadtp.blogspot.com

Bisa dibilang cukup unik memang ketika kita dapat menemui sebuah warung yang berjualan di puncak gunung. Akan tetapi, ternyata hal itu memang benar ada. Ya! Gunung Lawu, disana kita dapat menjumpai sebuah warung yang selalu buka dan siap menjajakan berbagai macam makanan untuk para pendaki. Dan letaknya benar-benar dipuncak! bukan di pinggang atau kaki gunung.

Warung tersebut adalah warung milik Mbok Yem. Seorang perempuan yang secara usia bisa dibilang sudah tak muda lagi. Meski tak tahu pasti usianya, Tapi, Mbok Yem menyebut jika usianya saat ini kisaran 70 tahun. Sudah terbayang ada orang tua, perempuan pula dan jualan di puncak gunung? Tunggu dulu dia tidak Cuma berjualan disana. Lebih dari itu, dia tinggal dan menetap di gunung yang tingginya mencapai 3265 MDPL tersebut. Keren kan!? Kalau kamu memang berniat untuk naik ke gunung Lawu. Cobalah sempatkan kesini. Letak warung Mbok Yem ini terletak hanya beberapa meter dari Puncak Hargo Dumilah (Puncak tertinggi Gunung Lawu).

Lebaran Waktunya Turun Gunung

Mbok Yem telah berjualan disana sejak tahun 1980-an. Saat itu dia masih menetap dan berjualan bersama sang suami. Kini meski sang suami telah tiada. Mbok Yem tetap tinggal dan berjualan di puncak sana. Lalu, apakah Mbok Yem ini benar-benar menetap disana dan tak pernah turun gunung? Tentu dia turun gunung hanya tiga kali dalam setahun. Itupun saat ketika ada sanak saudara yang hendak mengadakan hajat. Atau ketika momen Idul Fitri. Nah, kalo banyak orang Idul Fitri pulang kampung. Buat Mbok Yem idul fitri adalah momentun untuk turun gunung.

Nah, kalau turun gunungnya setahun tiga kali, kapan waktu Mbok Yem belanja kebutuhan warung? Ternyata menurut penuturan Mbok Yem yang disadur dari Tribunews menyatakan kalau ada orang yang membantu dia untuk kecukupan warung selama tiga kali dalam seminggu. Jadi tenang segala yang dijual Mbok Yem ini fresh dan terjaga mutunya.

Jika untuk kebutuhan warung sudah ada yang membantu. Maka untuk kebutuhan air bersih, Mbok Yem mengaku mengambilnya dari mata air Sendang Derajat yang terdapat di pos 5. Barangkali hanya 10 menit dari warung Mbok Yem ke Sendang Derajat.

Banyak pendaki yang tentunya terkesan dengan Mbok Yem. Sebab sebagaimana banyak orang tahu jika Gunung Lawu punya cuaca yang cukup Ekstreem. Saat musim-musim tertentu di puncak Lawu kerap terjadi angin kencang. Bahkan suhu ketika malam bisa mencapai minusĀ  derajat ceslcius. Dibutuhkan tubuh yang prima untuk menghadapi cuaca ekstreem macam itu. Orang-orang muda saja kadang tak sanggup, tapi Mbok Yem yang kini usianya telah mencapai kepala tujuh itu masih bugar melayani para pendaki.

Pecel Mbok Yem yang Melegenda

pendakian gunung lawu
Sumber: TelusurIndonesia.com

Salah satu yang paling melegenda dari Mbok Yem ini adalah Pecelnya yang terbilang enak. Bisa dibayangkan bukan sampai dipuncak Gunung dengan pemadangan yang super indah lalu bisa dinikmati dengan menyantap nasi pecel plus telor ceplok. Dan kabar baik lainya adalah. Harga seporsi Nasi pecel itu hanya dibandrol 10 ribu rupiah saja. Sungguh nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan?

(Baca Juga: Batik Lemboto, Batik Khas Kincang)

Tapi Mbok Yem ini tak hanya menjual Nasi Pecel saja. Ia juga menjual berbagai makanan ringan dan minuman-minuman segar. Bahkan, dibulan Sura (Muharram) Mbok Yem kerap memasak soto yang tentunya siap menggoyang lidah para pendaki.

Tak Hanya Mbok Yem

Perlu diketahui jika di puncak Lawu ini sebetulnya tak hanya Warung Mbok Yem saja yang berdiri. Ada beberapa warung lain yang juga ada disana. Akan tetapi warung-warung lain itu tak setiap hari buka. Hanya dihari-hari tertentu saja warung tersebut buka. Karena itulah banyak pendaki yang penasaran akan warung Mbok Yem yang pada akhirnya dijuluki sebagai warung tertinggi di pulau Jawa bahkan mungkin di Indonesia.

Gunung Lawu dan Mbok Yem memang tak bisa dipisahkan. Keduanya adalah satu kesatuan. Jika Lawu punya pemandangan yang memukau, maka Mbok Yem punya pecel yang enaknya bukan main. Keduanya berkolaborasi untuk memanjakan para pendaki dari seluruh penjuru negeri.

(Gambar Utama: undick.wordpress.com)

Editor: Ridho Nur Wahyu

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here